KETUA ISTR, Soimalia Mahar (kiri) bersama Jhons Hopkins Bloomberg The
Union, Ketua MTCC dan para dokter muda usai konferensi International
Tobaco Control di Hyatt Jogyakarta, belum lama ini.* Ratno/KC
Dikutip dari kabar-cirebon dot com, Ketua Indramayu Sehat Tanpa Rokok (ISTR), Soimalia Mahar kepada KC,
Selasa (1/3/2016) berharap, Kab. Indramayu segera menyusul untuk
mengadopsi aturan larangan penyelenggaraan reklame rokok dan produk
tembakau, termasuk membuat peraturan daerah (perda) tentang kawasan
tanpa rokok (KTR) secepatnya.
Alasannya, karena hal itu merupakan salah satu indikator untuk menaikkan
angka indeks pembangunan manusia (IPM). “Kita akan sangat kesulitan
untuk mewujudkan Kab. Indramayu sehat, apalagi untuk mengikuti
lomba-lomba kabupaten sehat. Jika penyelenggaraan reklame rokok,
sponsor, promosi tidak segera dikendalikan dan masih tetap berjalan
bebas. Karena, iklan/reklame rokok adalah salah satu faktor merangsang
hasrat untuk mengonsumsi zat berbahaya ini dan prevalensinya meningkat
tajam setiap bulannya,”ujarnya.
Tidak tanpa sebab kenapa anak-anak, remaja mencuri kesempatan disela-sela kegiatan normalnya sebagai anak, mereka mencicipi bahkan ada yang sudah santainya mengkonsumsi rokok di tempat umum. salah satu menanggulangi atau mengurangi penggunaan rokok adalah dengan mengurangi pula iklan-iklan di jalan seperti reklame, poster, spanduk dan lainnya, sehingga info tentang rokok pun mulai berkurang dan orang yang mengkonsumsi rokokpun mulai sedikit.
SUSENAS 2006 mencatat, pengeluaran keluarga miskin untuk membeli rokok
mencapai 11,9 % itu menempati urutan kedua setelah pengeluaran untuk
beras. Sementara, keluarga kaya pengeluaran rokoknya hanya 6,8% dan
fakta ini memperlihatkan bahwa rokok keluarga miskin menggeser kebutuhan
makanan bergizi esensial bagi pertumbuhan balita. Artinya, balita harus
memikul risiko kekurangan gizi demi menyisihkan biaya untuk pembelian
rokok yang beracun dan penyebab banyak penyakit mematikan itu.

0 comments:
Post a Comment